Minggu, 04 Oktober 2009

MENJADI REMAJA GAUL ALA ISLAM

MENJADI REMAJA GAUL ALA ISLAM

Temen-temen tentu udah nggak asing lagi dengan istilah ‘gaul’. Yach, tren yang udah membumi di lingkungan temen-temen. Dari mulai model baju, celana ketat, rok mini, tanktop, sampe buku-buku dan majalah nggak ketinggalan ngebahas tren itu. Tapi apa temen-temen tau, apa sih sebenernya arti gaul tersebut?

Ada yang bilang, gaul itu punya banyak temen dan punya banyak wawasan. Di mana-mana ia dikenal. Banyak yang nelponin, banyak yang ngajakin hang-out bareng, banyak yang naksir, banyak juga yang iseng gangguin. Pokoknya, layaknya superstar lah, ia dikenal di manapun berada.

Ada juga yang bilang, gaul itu ngikutin perkembangan zaman. Pokoknya, orang bisa dikatakan gaul jika ia bisa ngikutin terus perkembangan zaman paling modern. Dari bacaan modern yang ngebahas perselingkuhan artis, sampai film modern yang mengumbar nafsu dan kekerasan. Dari mulai celana gombrong di bawah mata kaki sampai celana ketat yang kesannya kayak telanjang. Dari baju kebesaran yang berumbai di mana-mana sampai kaos kekecilan model adik bayi. Semuanya diikutin. Namanya aja ngikutin tren modern!

Ada lagi yang memaknai gaul sebagai kebiasaan belanja di mall, nongkrong di kafe, jago sms-an, jago pencet HP, dan sebagainya.

Tapi apa emang cuma sebatas itu aja definisi gaul?

Dalam Islam sendiri, gaul berarti punya prinsip. Kan nggak lucu banget, kalo kita ngaku gaul tapi ke mana-mana cuma ikut-ikutan tanpa dasar. Nah, untuk itu kita kudu nyari tau prinsip tersebut. Caranya? Dekati dan akrabi Al Qur'an. Pramuka aja punya prinsip “Satyaku kudharmakan, dharmaku kubaktikan”, masa' sih kita seorang muslim yang merupakan ummat terbaik malah nggak punya prinsip. Malu dong!!!

Lantas apa prinsip kita sebagai Muslim? “Hidup mulia atau mati syahid!”

Bener! Seratus deh buat kamu yang menjawab bener tadi!

Selain itu, pribadi muslim yang gaul tercermin dalam sepuluh sifat. Simak baik-baik yaaa....! Setelah itu diamalkan. Baru deh kalian tepat disebut sebagai insan yang gaul.

1.

Salimul Aqidah (aqidah yang bersih)

Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu kita nggak akan nyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang Muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam" (QS. Al An'am:162).

Karena aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka pada awal da'wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan taukhid.

Nah, temen-temen semuanya, kalo kalian emang ngebet banget pingin disebut manusia gaul, bersihkan tuh aqidahmu. Jangan melulu membersihkan wajah berjerawat! Oke?

2.

Sahihul Ibadah (ibadah yang benar)

Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: "Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat". Dari ungkapan ini kita bisa nyimpulin bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

Muslim yang gaul emang muslim yang punya prinsip. Tapi prinsip kita harus berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah, bukan asal prinsip. Apalagi prinsip berdasar hukum setan dan nafsu. Nggak banget deh!!!

3.

Matinul Khuluq (akhlaq yang kokoh)

Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat. Pingin kan ngerasain bahagia dunia-akhirat? Nah, karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur'an. "Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung" (QS. Al Qalam: 4).

4.

Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)

Qowiyyul jismi merupakan satu sisi yang harus ada pada setiap Muslim. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi. Namun jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)

Demikian pula Imam Hasan Al Banna berkata bahwa salah satu kewajiban mujahid adalah: ”Hendaklah engkau bersegera melakukan general chek-up secara berkala atau berobat, begitu penyakit terasa mengenaimu.”

Gaul itu nggak mudah sakit-sakitan. Setuju???

5.

Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)

Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting.Muslim itu nggak boleh lelet, apalagi telmi. Jangan deh!! Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fathonah (cerdas). Al Qur'an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya: "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: " pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir" (QS Al Baqarah: 219)

Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa dibayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Pasti akan terjadi yang namanya taqlid buta alias berbuat dan berkata tanpa dasar yang jelas. Dan itu jelas nggak dibolehkan dalam Islam.

Oleh karena itu, Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman Allah yang artinya: Katakanlah: "samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?"', sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran". (QS Az Zumar: 9)

6.

Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)

Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang juga harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam.

Rasulullah SAW bersabda: "Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)" (HR. Hakim)

7.

Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)

Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal 'asri, wallaili dan seterusnya.

Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: "Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu". Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

Imam Hasan Al Banna berkata: ”Kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang tersedia.”

Coba deh direnungkan. Bila seorang Muslim mampu memahami betapa banyak kewajiban yang harus dipikulnya, tentu ia nggak akan pernah menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang nggak berguna.

Sebuah kata bijak barangkali bisa menjadi pedoman. ”Jangan pernah menyia-nyiakan waktumu, karena sesungguhnya tidak ada yang sia-sia di sisi Allah.”

8.

Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)

Munazhzhaman fi syuunihi juga termasuk kepribadian seorang muslim yang penting yang ditekankan oleh Al Qur'an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat , berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.

9.

Qodirun 'Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)

Qodirun 'alal kasbi juga merupakan ciri yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Karena pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur'an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.

10.

Nafi'un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)

Nafi'un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.

Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain" (HR. Qudhy dari Jabir).

Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al Qur'an dan sunnah. Sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing. Bahkan hal wajib buat generasi muda yang ngotot banget untuk jadi anak gaul.

Jadi jelas kan, bahwa gaul bukan hanya sekedar nongkrong di mall, belanja sana-sini, sms-an sampe jempol sekarat, bukan juga berpakaian ala Jahiliyyah yang memperlihatkan punggung, paha, bahkan hal lainnya yang seharusnya nggak boleh terlihat.

Wallahu a'lam.


'Menjadi Remaja Gaul yang Berpendidikan dan Sukses Dunia Akhirat'

YOU ARE MUSLIM TEEN !

Sebagai remaja yang gaul dan berpendidikan kita tidak hanya asal bergaul menikmati masa muda ini, banyak teman-teman yang memiliki argumen bahwa masa muda adalah untuk bersenang-senang, “Mumpung masih muda” kata mereka tanpa berpikir lebih jauh tentang kehidupan yang sedang mereka jalani. Saya yakin remaja muslim bukanlah remaja biasa yang gampang di ombang ambingkan oleh gelombang zaman yang super dasyat ini. Remaja muslim adalah remaja yang kuat, memiliki prinsip, kepribadian yang sempurna dan bertanggung jawab. apalagi remaja muslim memiliki bekal ilmu dalam menghadapi lika-liku kehidupan di zaman serba canggih ini. So, jangan ngaku remaja muslim kalo masih lembek di hantam zaman. Di sini kita sama sama mencoba berbagi ilmu dan kiat-kiat “Menjadi remaja gaul yang berpendidikan dan sukses dunia akhirat” sebagai salah satu sarana saling berbagi dan mengingatkan sesama muslim demi kokohnya remaja muslim sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi Muhammad SAW bahwasannya muslim itu bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain. Dengan dasar hadist tersebut marilah kita timbulkan ghiroh terhadap pergaulan muslim yang memiliki batas kesopanan dan norma agama.

Dengan ilmu yang kita miliki, kita mampu mengimbangi pergaulan yang kita jalani di Indonesia saat ini dengan memilah memilih mana yang baik dan mana yang buruk meskipun tidak sedikit dari teman kita yang mengetahuinya namun masih saja larut di dalamnya di karnakan lemahnya ghiroh yang ia miliki. Ashab, sebelum mempelajari sosiologi pergaulan remaja ada yang lebih penting dari itu. Yupz, kewajiban kita sebagai remaja muslim yang tidak bisa di tinggalkan karna dari situlah sumber kepribadian kita terbentuk dan hal itu pula lah yang menentukan kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat, jangan ngaku remaja muslim jika tidak tau dan tidak pernah melaksanakan kewajibannya seperti shalat, puasa dan sebagainya. Taukah kamu tentang syarat sahnya wudhu? Taukah kamu tentang rukun-rukun shalat? Hal yang membatalkan dan sebagainya? Banyak remaja muslim yang meremehkan hal tersebut bahkan mengabaikannya, tapi kita harus tetap ikhlas menjalani ibadah tersebut karna kalau tidak wah……jangan sampai kita menyandang status ‘Remaja Penghuni Neraka’ Naudzu billah min dalik!











Fase pertama

Fase pertama yang benar-benar harus kita utamakan yaitu meraih kebahagiaan akhirat dengan cara taat beribadah dan meninggalkan segala larangan Allah SWT karna di dalam hal tersebut terdapat ridho Allah SWT yang mana jika Allah sudah ridho terhadap hambanya maka tidak ada yang layak bagi hamba tersembut kecuali kebahagiaan berupa surga beserta isinya (Allahumma ijal na minhum) meskipun Allah SWT menyamarkan di mana ridho tersebut? Di ibadah fardu? Atau di ibadah sunnah? Bahkan bisa jadi ada pada hal yang mubah sekalipun. Pernah mendengar cerita pelacur berlumuran dosa yang masuk surga di sebabkan karna hal sepele? Saat itu dia melihat anjing yang kehausan kemudian timbullah rasa kasih sayangnya terhadap sesama mahluk Allah SWT, diapun memberi minum anjing tersebut menggunakan sepatunya. Sungguh hal yang tidak logis, tapi itulah kekuasaan dan kehendak Allah SWT banyak sekali pelajaran yang tersirat dari cerita tersebut,pernah juga mendengar kisah perjuangan imam besar? Imam sekaligus ulama besar Imam Gozhali? Kisah ini tercantum di kitab Nasoihul ibad, beliau adalah ulama yang taat beribadah, hari-harinya hanya di gunakan untuk beribadah dan mengarang kitab, salah satu kitab yang paling terkenal adalah kitab Ihya Ulumuddin, yang mana para ulama sepakat dengan kedasyatan kitab tersebut andai saja semua ilmu di dunia ini hilang dan yang tersisa hanyalah kitab Ihya Ulumuddin maka cukuplah karena kitab tersebut mencakup semua bidang ilmu. Alangkah hebatnya beliau dan kitab tersebut,tapi taukah kamu pahala ibadah yang ia miliki mana yang besar di mata Allah? Ibadah yang pahalanya paling besar adalah ketika beliau sedang mengarang kitab ada seekor lalat yang hinggap di tempat tinta dan meminumnya maka beliau diam dan membiarkan lalat itu minum sampai puas. Ashab, dari situlah Imam Gozhali mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT.Ana ajak antum mengasah otak, Dari dua contoh tersebut banyak sekali hikmah yang dapat kita jadikan pelajaran. Hikmah apa yang dapat antum simpulkan dari dua kisah tersebut? Pikirkan, renungkan dan amalkan!

Back to our topick, topik kita kali ini masih membahas tentang Ibadah dan maksiat, Apa yang antum raih dari kata IBADAH dan MAKSIAT? Jawabannya mudah, TAQWA! kita kembalikan saja masalah ini kepada para khotib shalat jum’at yang selalu berkewajiban mewasiatkan TAQWA ! TAQWA dalam arti kita sanggup dan mampu menjalankan perintah Allah SWT, dan meninggalkan larangannya! (duh kok jadi khutbah nih?) Itu adalah taqwa, lalu bagaimana perincian Ibadah dan Maksiat? Bantuk Ibadah itu bermacam-macam ada yang berbentuk qolbiyah seperti berdzikir,Tafakkur dan sebagainya. Ada juga yang berbentuk Lisan seperti berdzikir dengan melafadkannya, membaca Al-quran. Kemudian ada yang berbantuk qolbiyah,lisaniyah dan jawarih seperti shalat oleh karena itu di dalam rukun shalat ada yang namanya rukun qolbiyah,lisaniah, filiyah dan ma’nawiyah ana yakin antum sudah mengerti tentang 3 rukun yang pertama, sedangkan rukun ma’nawiyah adalah rukun shalat yang terakhir yaitu Tartib,Yupz…..Tartib juga termasuk rukun shalat, apa ada orang shalat di awali dengan salam? Enggak kan! Sebenarnya ada lagi bentuk-bentuk ibadah yang lain,yang bisa antum buka di kitab-kitab klasik (he….he……Af1 ana sengaja biar antum sering baca buku).

Kemudian bentuk-bentuk dari maksiat juga beragam, semua anggota tubuh kita ini dapat di jadikan sebagai sarana maksiat, jangankan mata, hati yang jelas jelas berada di dalam tubuh manusiapun dapat bermaksiat kepada Allah SWT bahkan maksiat yang paling sukar di sembuhkan adalah penyakit-penyakit yang berada di dalam hati, butuh terapi dan mujahadah besar untuk menghilangkannya. Jika mata bisa di pejamkan untuk meminimalisir maksiat, bagaimana dengan hati? Jika kaki bisa di tahan untuk tidak melangkah ke tempat maksiat, bagaimana dengan hati? Para wali Allah mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah karna ibadah dan mujahadah mereka membersihkan hati dari segala penyakitnya. Ada juga orang yang suka beribadah tapi masih belum bisa menjaga hatinya dari penyaki-penyakit tersebut maka orang tersebut masih jauh dari kedudukan Wali Allah. (Semoga kita di jadikan sebagai golongan yang pertama yaitu Wali Allah, Amin) But, Apakah kita mampu menjaga hati dari penyakit-penyakit tersebut? Apa saja penyakit-penyakit hati itu? Dan bagaimana cara mencegah atau mengobatinya? Adapun penyakit-penyakit hati seperti, Riya, Sum’ah,Sombong,Cinta dunia dan masih banyak lagi yang dapat antum baca di kitab Ihya Ulumudin yang pembahasanya begitu lengkap besera dengan cara mencegah dan mengobatinya.

Minggu, 06 September 2009

you are islamic teen

Assalamualaikum Wr Wb

Dengan segenap kekuatan yang di berikan oleh Allah SWT, terciptalah blog sederhana ini dengan tujuan untuk menambah ilmu bagi sahabat remaja, saling bertukar pikiran dan berdiskusi tentang hal-hal yang layak untuk di perbincangkan. bagi ashab yang memiliki keluhan atau masukan mengenai blog ini jangan sungkan untuk menghubungi operator.

Wassalamualaikum Wr wb